Oleh: drg. Bambang Nursasongko, Sp.KG

Gigi berlubang mau tidak mau harus ditambal. Seiring dengan waktu, tambal gigi saat ini juga mempertimbangkan aspek estetika. Jika penambalan dilakukan dengan benar, orang tidak akan percaya ada tambalan pada giginya. Sudah beberapa hari ini Linda menahan rasa sakit akibat giginya yang berlubang. Setelah sakitnya agak mereda, dan kesibukannya juga tidak lagi menumpuk, ia pun mengunjungi dokter langganannya. “Dok, saya minta ditambal tapi yang tidak kelihatan ya?” Tanpa berkata, setelah Linda duduk di kursi operasi, sang dokter langsung beraksi. Setelah proses pengeboran selesai, dokter tadi berkata, “Yak, sudah selesai!” “Lo, kok tidak ditambal, Dok!” Linda kebingungan. Tanpa rasa bersalah dokter menjawab, “Kan tadi minta tambalan yang tidak kelihatan.” Linda pun mengutarakan maksud yang sebenarnya, yakni tambalan yang warnanya senada dengan warna gigi. “O, itu namanya tambalan sewarna gigi,” timpal sang dokter. Dulu Depan Gigi yang berlubang harus segera ditangani. Soalnya, bila didiamkan tetap berlubang, akan mudah membusuk. Nah, saat infeksi sudah begitu parah, tindakan terakhir yang bisa dilakukan adalah mencabut gigi. Kalau gigi dicabut, “Ya jadi ompong dong!” tukas Linda. Cewek ompong? Enggaklah. Makanya, “Saya bela-belain datang ke dokter gigi buat menambal gigi yang mulai berlubang.” Terus terang, Linda paling takut dengan bor. Akhir-akhir ini permintaan menambal gigi dengan tambalan sewarna gigi — secara salah kaprah disebut tambalan putih– memang meningkat. Apabila dikerjakan dengan baik, tekstur dan warnanya hampir tidak berbeda dengan gigi asli. Orang yang melihatnya pun jadi sulit menentukan apakah gigi tersebut ada tambalannya atau tidak. Secara umum, ada dua macam tambalan sewarna gigi: resin komposit dan glass ionomer cement (GIC). Perbedaan keduanya adalah dalam hal perlekatan. Resin komposit melekat pada permukaan gigi secara mekanis, yaitu melalui pori-pori yang dibuat pada permukaan email dengan cara dietsa. Cara lain adalah dengan perlekatan hibrida pada permukaan dentin. Sedangkan GIC melekat secara fisik dan kimia, baik pada email maupun dentin. Mengapa perlekatan pada email dan dentin berbeda? Email merupakan kristal yang sangat padat, 95 – 98%-nya adalah mineral. Sedangkan dentin hanya mengandung 75% mineral, selebihnya berupa serabut kolagen yang lunak. Dentin pun tidak padat karena mengandung puluhan ribu saluran mikro per mm2. Secara mekanis perlekatan resin komposit pada pori-pori email lebih kuat dibandingkan pada kolagen, yang disebut ikatan hibrida, di permukaan dentin. Demikian pula dengan GIC yang secara kimia melekat pada mineral gigi yang lebih banyak dikandung oleh email. Resin komposit awalnya digunakan untuk menambal gigi depan yang tampak dari luar, memperbaiki gigi yang patah, melapisi permukaan gigi yang rusak, atau menutup warna gigi yang berubah karena tetrasiklin misalnya. Setelah melalui penelitian dan pengembangan yang intensif, sekarang bahan ini dijadikan sebagai pengganti amalgam untuk menambal gigi belakang karena kekuatannya sudah setara. Dibandingkan dengan resin komposit, kekuatan dan fisik GIC lebih rendah. Akan tetapi perlekatannya pada permukaan dentin lebih baik. Karenanya bahan ini banyak digunakan untuk menambal daerah yang tidak terkena tekanan kunyah, misalnya lubang gigi dekat gusi atau sebagai dasar sebelum ditambal dengan resin komposit. Di samping itu, GIC juga digunakan sebagai semen untuk merekatkan tambalan logam atau mahkota tiruan gigi. Berhasil atau Gagal! Bahan tambal sewarna gigi tadi dimasukkan ke dalam lubang gigi, tentunya dalam bentuk lunak. Setelah mengikuti bentuk lubang akhirnya bahan ini mengeras secara kimia atau penyinaran. Pengerasan secara kimia adalah dengan cara dicampur, seperti membuat lem besi. Namun karena waktu pengerasannya tidak dapat dikontrol, maka kemudian dikembangkanlah pengerasan dengan disinari. Dengan cara ini tambalan dapat dibentuk dan disempurnakan dengan leluasa sebelum dikeraskan. Pada awalnya penyinaran dilakukan menggunakan sinar ultraviolet. Berhubung diketahui berbahaya, dikembangkan penyinaran lain menggunakan lampu halogen, seperti yang digunakan untuk lampu mobil. Lampu ini tidak berbahaya tapi sangat menyilaukan. Sampai-sampai ada yang mengira itu sinar laser. Light Amplification by Stimulated Enission of Radiation (laser) memang digunakan di kedokteran gigi, tapi lebih banyak untuk memotong gigi, tulang, jaringan, disinfeksi. Karena permukaan tambal sewarna gigi mempunyai perlekatan yang baik dengan permukaan gigi, maka teknik pengeboran pada gigi juga mengalami perubahan. Jika menggunakan amalgam, perlu lubang yang besar, maka sekarang tidak lagi. Teknik terbaru yang dinamakan minimal preparation hanya membuang jaringan gigi yang rusak dan meninggalkan sebanyak mungkin jaringan yang sehat. Tak ada gading yang tak retak! Begitu juga dengan teknik penambalan ini. Meski kemampuan merekatnya baik, namun pada waktu mengeras bahan ini akan mengerut ke arah datangnya sinar. Alhasil akan timbul rasa sakit setelah penambalan atau kemungkinan lainnya bOcor. Besarnya pengerutan ini bergantung kepada ketebalan bahan tambal. Semakin tebal, pengerutannya semakin besar. Mengatasinya, bahan ini diletakkan tidak sekaligus namun selapis demi selapis. Yang perlu diingat, selama penambalan tidak boleh terkena ludah atau cairan mulut, karena akan mengganggu pelekatannya. Mengapa? Bahan ini bersifat teknik sensitif, sehingga prosedur baku penambalan harus diikuti dengan benar. Soalnya hanya ada dua kemungkinan: berhasil atau gagal. Tidak ada istilah kurang-kurang dikit bolehlah. Jika itu terjadi, bisa dipastikan akan gagal. Karena prosedurnya agak rumit, bahkan oleh dokter gigi yang terlatih seperti spesialis konservasi gigi sekalipun, maka penatalaksanaannya tidak mungkin dilakukan dalam waktu 10 menit, di luar alat dan persiapannya. Jangan Lupa Kontrol Bagaimana memilih bahan tambal sewarna gigi yang baik? Di Amerika Serikat bahan yang baik akan mendapat sertifikat dari Persatuan Dokter Gigi Amerika (ADA). Sayangnya di Indonesia hal itu belum dilakukan sehingga dokter gigi dibuat bingung dengan begitu banyaknya bahan yang ada di pasaran. Akhirnya sering dipilih bahan menurut harga, dengan pertimbangan mungkin agar terjangkau oleh pasiennya. Namun untuk mudahnya, banyak yang mengacu pada ADA atau lembaga penelitian independen lainnya. Hasil penambalan yang baik ditandai dengan permukaan yang licin dan mengkilap. Selain itu tepinya menyatu dengan gigi sehingga batasnya hampir tidak kelihatan. Namun jika terlihat garis berwarna gelap atau seperti kaca retak di tepi tambalan berarti telah terjadi kebocoran. Tambalan pun harus dibongkar untuk diulang lagi. Jika sukses, tanpa perlu menunggu seperti tambalan menggunakan amalgam, gigi pun bisa langsung dipakai buat mengunyah. Yang perlu diingat hanyalah jangan mengonsumsi banyak makanan atau minuman berwarna seperti teh, kopi, cokelat, dan kuah berbumbu kunyit. Bukan apa-apa sih, warna tambalan bisa-bisa tidak sewarna gigi lagi. Jangan pula lupa untuk kontrol ke dokter gigi untuk pembersihan dan mencegah karies ulangan, paling tidak setiap enam bulan. Nah, kini Anda pun bisa tersenyum semanis Linda tanpa takut ketahuan ada bekas tambalan. Tidak perlu risau jadi bahan gosipan, “Ih, manis-manis kok malas merawat gigi!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: