Berdzikir Membuat Hati Tentram, Benarkah? (5)


Sekarang kita telah sampai pada pembahasan akhir tentang metode berdzikir kepada Allah. Teknik berdzikir yang terakhir, yaitu :

d. Dzikir dengan hati
Sebenarnya setiap dzikir memang harus disertai dengan hadirnya hati. Namun, yang dibahas di sini adalah teknik berdzikir bukan menggunakan anggota-anggota badan seperti disebutkan di atas, tapi di dalam hati.

Dzikir di dalam hati (tanpa melibatkan lisan) bisa dilakukan dalam setiap nafas. Kita bernafas dengan tenang dan teratur, pada saat menghirup udara berdzikir “Allâh”, sedangkan ketika mengeluarkan nafas lafazh dzikirnya “Huwa” (biasanya di-waqaf-kan, sehingga dibaca “Hû”, bacaan panjang). Seringkali bacaan panjang ini diabaikan oleh sebagian dari kita, sehingga kesannya seperti orang habis makan cabe yang sangat pedas. Bunyi dzikirnya terdengar “Hu, hu, hu, hu…”

Sebaiknya hal itu tidak kita lakukan, karena kita menyebut asma Allah Yang Maha Pemberi/Pemilik Cahaya (An-Nûr). Bukankah kita berharap agar hati kita senantiasa tercurahkan oleh cahaya-Nya? Memang dari segi hukum tetap sah, asalkan niatnya benar bahwa isim dhomir (kata ganti) “Huwa” menunjukkan Allah, hanya saja bacaannya kurang sempurna karena tidak dibaca panjang. Namun, apakah sopan apabila dengan tergesa-gesa kita menyebut Dzat yang menciptakan kita? Bukankah menyebut nama presiden saja harus dengan hormat? Apalagi menyebut asma Beliau Yang Maha Raja/Maha Berkuasa (Al-Malik). Berdzikir harus disertai sikap tawadhu‘ dan pengharapan penuh kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun (Al-Ghafûr).

Syaikh Ibnu Athaillah memberi nasihat tentang anugerah Allah berupa nafas, “Setiap tarikan nafas yang dihembuskan, di dalamnya ada ketentuan Allah. Jangan kosongkan hati dari mengingat Allah, sebab dapat memutuskan murâqabah (pengawasan) anda dari hadirat-Nya. Janganlah keheranan karena terjadinya hal-hal yang mengeruhkan jiwa, karena itu sudah menjadi sifat dunia selama anda berada di dalamnya.”

Di dalam perjalanan hidup anak Adam di permukaan bumi ini, tidaklah seorang hamba terlepas dari problema yang berlaku pula bagi manusia lainnya. Setiap tarikan nafas anak Adam menjadi pertanda bahwasanya persoalan-persoalan yang sama selalu berulang. Hal ini karena segala yang sudah, sedang dan akan terjadi berjalan di atas rencana Allah jua. Dan semua ketetapan dan rencana Allah berlaku untuk setiap orang, di mana kita berada di dalamnya. Tugas hamba Allah dalam mengikuti rencana-Nya, tidak lain adalah menaati hukum-Nya serta mengikuti takdir-Nya dengan hati ridha dan sabar, setelah bekerja keras dengan cara yang cerdas.

Bila kita menginginkan agar jumlah bilangan dzikir lafzhul Jalâlah lebih banyak, maka dzikir di di dalam hati ini bisa diselaraskan sesuai detak jantung (qalb); dengan lafazh dzikir hanya “Allâh” atau “Huwa”. Bila kita senantiasa berdzikir kepada Allah, niscaya Allah juga berdzikir (ingat) kepada kita, di dunia ini dan terutama di akhirat kelak.

فَاذْكُرُوْنِيۤ أَذْكُرْكُمْ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. (QS al-Baqarah [2] : 152)

KH. Asrori al-Ishaqi—pengasuh Pesantren Al-Fithrah Jl. Kedinding Lor Surabaya—pernah menasihatkan agar pada saat dzikir sirri (di dalam hati), lidah kita ditekuk ke atas kemudian ditempelkan ke langit-langit rongga mulut. Ini untuk melatih kita pada saat ajal akan menjemput (sakaratul maut). Pada situasi itu, tenggorokan akan terasa sangat kering dan lidah begitu ngilu sehingga seakan tidak bisa digerakkan. Menjelang kematiannya, setiap orang akan melakukan kebiasaan selama hidup.

Supaya kita husnul khâtimah, maka harus dilatih mulai sekarang. Memang, saat kita segar-bugar, hal itu terasa ringan. Namun, akan sangat berbeda bila sang malaikat pencabut nyawa—‘Izrail—sedang berada di hadapan kita. ‘Izrail akan terlihat sangat tampan bila amal ibadah kita baik, namun sungguh mengerikan bila kita bukan orang yang bertakwa.

Agar mendapat pertolongan-Nya ketika ajal menjelang, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا ِفيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ

Ya Allah, mudahkanlah bagi kami ketika sakaratul maut, amin.

Daftar Pustaka :
Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: