Berdzikir Membuat Hati Tentram, Benarkah? (1)


Hidup ini memang tempat ujian. Tanpa diundang atau dicari pun, masalah akan tetap kita temui. Setelah menyelesaikan masalah yang satu, maka kita akan mendapat masalah baru untuk diselesaikan. Semua itu ibarat anak sekolah yang terus mendapat soal ujian untuk bisa naik kelas.

Seorang motivator dan inspirator, Drs. Mario Teguh, MBA— dikenal juga dengan inisial MT; beliau juga guru bagi penulis dan ribuan Super Members di MTSuperClub— menasihatkan bahwa perjalanan naik kita akan selalu ditaburi dengan ujian-ujian yang akan memisahkan kita dari mereka yang tidak betul-betul menginginkan kecemerlangan hidup. Ujian-ujian itu adalah tantangan yang memanggil semua serat keberanian dan kecerdasan kita untuk membentuk kekuatan pribadi yang memenangkan rencana-rencana kita. Bila kita tidak menang sekarang, kita akan menang nanti.

Itu sebabnya, kejernihan dalam menyikapi kegagalan adalah pemungkin yang penting untuk memaksimalkan pencapaian hak kita untuk berhasil, untuk mencapai kecemerlangan yang kita cita-citakan. Pengenalan yang baik atas sifat-sifat kegagalan adalah penentu bagi ketepatan sikap dan tindakan-tindakan kita pada setiap upaya kedua kita. Maka, deskripsikanlah kegagalan dalam sifat-sifatnya yang asli.

Kegagalan adalah tanda tidak tepatnya arah. Dengannya, penyesuaian adalah nama perjalanannya.
Kegagalan adalah tanda tidak cukup baiknya cara, sehingga peningkatan adalah nama pelatihannya.
Kegagalan sebetulnya tertundanya sebuah keberhasilan. Oleh karena itu, kesabaran adalah nama penantiannya.

Kegagalan adalah tanda tidak cukupnya kekuatan. Itu sebabnya, kesungguhan adalah nama keharusannya.

Kegagalan adalah tanda akan adanya jaminan keberhasilan. Dan…, iman adalah nama keyakinannya. Marilah kita sadari bahwa kita dibedakan dari orang biasa dari cara kita menyikapi kegagalan.

Kemudian, bila kita bersedia untuk melayani impian hati kita dengan kecintaan untuk mendatangkan kebaikan bagi orang lain, kita tidak perlu lagi meramalkan keberhasilan kita. Dengannya, keberhasilan adalah hak yang pencapaiannya adalah sebuah kepastian.

Walaupun semua ustadz, kyai, da‘i, motivator dan inspirator telah menasihati kita untuk tetap tenang dalam menjalani hidup dan kehidupan, namun seringkali kita lupa, atau mungkin sengaja kita lupakan karena kita menutup diri dari nasihat. Setiap ada masalah, pikiran kita selalu resah, hati pun gelisah dibuatnya. Bahkan, kadang kala kita menyalahkan kehidupan itu sendiri. Padahal kita sudah diingatkan bahwa siapa pun yang berani menantang kehidupan, maka semua orang akan menjagokan kehidupan. Waktu memang tidak terbatas, namun waktu yang kita miliki sangat terbatas. Itulah nasihat yang sering disampaikan oleh tokoh-tokoh bijak.

Jika diri kita resah dan gundah, apa yang harus kita lakukan untuk menenangkan hati dan menentramkan jiwa? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita renungkan pertanyaan-pertanyaan pengantar berikut ini yang jawabannya sudah tersurat di dalamnya.

Siapakah yang paling mengerti sebuah lagu selain penggubahnya? Siapa yang lebih memahami lukisan selain senimannya? Siapakah yang mengenal dengan baik sebuah motor atau mobil jika bukan pabrik pembuatnya? Siapa yang lebih mengetahui indahnya sebuah bangunan bila bukan sang arsitektur? Lalu, siapa yang lebih mengerti tentang diri kita jika bukan Beliau Yang Menciptakan kita? Allah SWT jauh lebih mengerti tentang diri kita, bahkan dibandingkan kita sendiri.

Untuk menenangkan jiwa dan menentramkan hati, Allah SWT telah memberikan obat yang sangat mujarab kepada kita sebagai hamba dalam firman-Nya :

أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْـمَئِنُّ ٱلْقُلـُوْبُ

Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram.
(QS ar-Ra‘d [13] : 28)

‘Aidh al-Qarni menerangkan bahwa pada kalimat “menjadi tentram” mengandung arti kesejahteraan, seruan dan keindahan. Seolah-olah hati adalah tanah. Bagian datar adalah yang tentram sedang bagian terjal adalah yang keras dan gersang. Semoga awan Tuhan Yang Maha Pemurah menurunkan hujan wahyu ke dalam hati agar mendapatkan santapannya di setiap waktu dengan ijin-Nya—berupa dzikir, syukur, taubat, cinta dan rindu.

Hati yang tentram adalah hati yang bebas dari rasa takut, serta tenang mengharap janji Tuhannya dengan penuh keyakinan, tawakal dan kejujuran.

Hati yang tentram adalah hati yang terhibur dari duka cita, sehingga merasa bebas dari kegusaran dan kesedihan hati.

Hati yang tentram adalah hati yang hidup bahagia, diridhai oleh Tuhan, dan ia pun ridha pada Tuhannya.

Hati yang tentram adalah hati yang terbebas dari rasa bimbang dan terlepas dari rasa ragu; hati yang teduh, kokoh dan tak terguncang.

Hati yang tentram adalah hati yang tak terpilah-pilah, yang menyatukan kembali kekuatan dan arahnya.

Hati yang tentram adalah hati yang terpelihara dari godaan setan, dominasi hawa nafsu, serangan, tipu daya dan kejahatan musuh.

Kejujuran itu kekasih Allah. Keterusterangan merupakan sabun pencuci hati. Pengalaman itu bukti. Dan seorang pemandu jalan tidak akan membohongi rombongannya. Tidak ada satu pekerjaan yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah.
Berdzikir adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka, siapa yang tak pernah memasukinya, maka ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak.

Berdzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari pelbagai kerisauan, kegundahan, kekesalan dan guncangan.

Berdzikir kepada Allah merupakan obat, penyembuhan, kesenangan dan kehidupan.

Dzikir merupakan jalan paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.

Dengan berdzikir kepada Allah, awan ketakutan, kegalauan, kecemasan dan kesedihan akan sirna.

Dengan berdzikir kepada Allah, segunung tumpukan beban dan permasalahan hidup akan runtuh dengan sendirinya.

Wahai orang yang mengeluh karena sulit tidur, yang menangis karena sakit, yang bersedih karena sebuah tragedi, dan yang berduka karena suatu musibah, sebutlah nama-Nya yang suci.

Wahai yang pikirannya tertutup mendung tebal dan kelam, ingatlah kepada Allah, pasti menemukan kebahagiaan. Wahai yang sedang diliputi kesedihan dan dibimbangkan rasa murung, ingatlah kepada Allah, niscaya menjumpai kegembiraan. Wahai yang dibebani kesulitan dan diguncangkan permasalahan, ingatlah kepada Allah, maka rasa aman pasti didapatkan. Wahai yang hatinya hancur, ingatlah kepada Allah, niscaya akan tenang.

Disebutkan sebuah hadits melalui Abu Musa al-Asy‘ari ra., bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir mengingat-Nya sama dengan orang hidup dan mati.”
(HR Bukhari)

Pertanyaannya adalah, “Apakah dalam kehidupan kita sehari-hari, jika kita gelisah, maka kita berdzikir kepada Allah untuk menentramkan hati? Ataukah kita melakukan hal yang lain?”

Coba kita tanyakan pada para pelajar, mahasiswa dan para pemuda. Jika pikiran mereka sedang ruwet dan perasaan pun tak enak, apakah mereka akan berdzikir kepada Allah untuk menenangkan jiwa? Mari kita tanyakan pada semua orang Islam, apakah cara yang diajarkan oleh Allah ini yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari ataukah cara yang lain?

Kalau disurvey, akan banyak sekali umat Islam—termasuk kita—yang tidak berdzikir kepada Allah untuk mengusir kegalauan jiwa. Mengapa? Mungkin kita akan menjawab, “Itu sudah saya lakukan, tapi kok tetap saja saya sumpek, gelisah dan resah.”

Barangkali para pelajar dan mahasiswa yang lebih terdidik dan intelek akan berujar, “Ah, itu kan dogma. Resep itu terlalu teoritis, perfeksionis, idealis dan tidak praktis!”

Kalau jawaban-jawaban kita seperti itu, entah apa yang akan kita lakukan jika kita berada di puncak bukit kesedihan atau di dasar lembah kegalauan. Tidak perlulah kita bayangkan apa yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat dalam menjalani hidup ini.

Bukankah kita senantiasa mengucapkan dua kalimat syahadat—sebuah persaksian bahwa Allah-lah Tuhan kita? Itu berarti kita ini makhluk-Nya. Kita pun sadar bahkan hapal di luar kepala tentang rukun iman. Apakah kita lupa bahwa rukun iman yang pertama adalah percaya kepada Allah? Murid-murid di sekolah dan para mahasiswa di kampus saja harus mengikuti saran para guru dan dosen untuk bisa lulus ujian. Karyawan di perusahaan juga harus tunduk dan mengikuti peraturan yang digariskan oleh manajemen untuk bisa bertahan dan tidak dikeluarkan, apalagi jika ingin naik jabatan.

Kalau sudah seperti itu lazimnya, mengapa kita tidak mengikuti anjuran Allah? Kuatirkah kita bahwa Allah akan menjerumuskan kita kepada hal-hal yang tidak memuliakan bahkan kepada penderitaan seumur hidup? Apakah kita meragukan kemampuan Allah, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa (Al-Qâdir Wa Al-Muqtadir) dan Maha Berdiri Sendiri/Maha Memenuhi Kebutuhan Makhluk (Al-Qayyûm)? Apakah kita mengira bahwa Allah adalah pendusta yang selalu mengabarkan berita bohong? Mâsyâ Allah. Kalau kita mengaku percaya (beriman) kepada Allah, lalu maka buktinya?

Iqbal, seorang penyair filosof asal Pakistan mengatakan, “Jika iman telah tiada, maka tidak ada lagi rasa aman. Tidak ada dunia bagi siapa saja yang tidak menghidupkan iman. Siapa rela dengan kehidupan tanpa agama, dia telah menjadikan kehancuran sebagai teman karibnya.”

Mungkin kitalah yang jarang sekali bahkan tidak pernah mengaji dan memperdalam ilmu. Bisa jadi kita mengira bahwa hal itu tidak banyak bermanfaat di kehidupan ini. Barangkali cara-cara belajar kita yang kurang tepat. Mungkin pula kita sudah mempelajari hal-hal yang terlampau jauh, padahal pondasi kita masih rapuh. Mungkin juga metode pengajarannya yang sudah waktunya dirubah. Bukankah telah dinasihatkan agar kalau seseorang mengajar orang lain, maka harus disesuaikan dengan kondisi orang yang belajar, baik latar belakang, budaya, tingkat pendidikan maupun pola pikirnya? Apakah semua ini terjadi karena kita senantiasa mengajarkan sebuah ilmu pada semua murid dengan cara yang sama? Padahal setiap orang itu unik, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kita tidak akan memperpanjang pembahasan tentang hal-hal tersebut. Marilah kita bersama-sama introspeksi (muhâsabah) diri, kemudian bersama-sama pula memperbaikinya.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa bertabiat mudah jenuh dan bosan, tidak bisa bertahan lama dalam satu seni aktivitas dzikir. Bila dipaksa melakukan satu cara saja, ia akan menampakkan kebosanan dan kejenuhan, padahal Allah tidak akan bosan hingga kita bosan. Maka, sikap yang diperlukan adalah memberikannya penyegaran dengan cara berganti-ganti dari satu seni ke seni lainnya, dari satu cara ke cara lainnya sesuai dengan waktu yang tepat. Dengan demikian jiwa akan merasa senang sehingga semangat dan ketekunannya dapat dipertahankan.

Daftar Pustaka :
‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
Mario Teguh, “Becoming A Star [Personal Excellence Series]”, PT Syaamil Cipta Media, Februari 2005/Muharam 1425 H
Mario Teguh, “One Million 2nd Chances [Personal Excellence Series]”, Penerbit Progressio, November 2006
M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007
Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: